Golkar Riau di Ujung Perpecahan: Musda Tak Kunjung Digelar, Beringin Mulai Meranggas

Riau (Matariaubertuah.com), — Partai Golongan Karya (Golkar) di Provinsi Riau saat ini tengah menghadapi dinamika internal yang berpotensi memecah belah konsolidasi kader. Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Partai Golkar Riau yang belum juga terlaksana menjadi titik tumpu kegaduhan di tubuh partai berlambang pohon beringin ini.

Dulu dikenal sebagai partai dengan struktur kuat dan kader yang solid, Golkar Riau kini dihadapkan pada tarik-menarik kepentingan menjelang pemilihan ketua baru. Penundaan Musda yang berlarut-larut memunculkan berbagai spekulasi sekaligus memicu kekhawatiran akan terjadinya perpecahan internal.

Pengamat politik dari salah satu perguruan tinggi di Riau, James Bond, menilai bahwa stagnasi Musda menjadi ancaman serius bagi stabilitas partai.

“Dulu Golkar itu seperti beringin yang rimbun, akar menghujam kuat, batangnya kokoh. Tapi jika Musda terus tertunda, lambat laun ranting bisa patah, daun berguguran. Ini berbahaya bagi masa depan partai,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (2/8).

Menurut James, kekuatan utama Partai Golkar terletak pada kerapatan jaringan struktural hingga ke tingkat akar rumput. Namun saat ini, dua faksi calon ketua DPD I disebut mulai menunjukkan klaim kekuatan masing-masing satu didukung mayoritas DPD II, sementara satu lagi kuat di sayap organisasi dan kelompok pendiri.

“Jika kondisi ini dibiarkan, bisa berkembang menjadi polarisasi yang mengarah pada dualisme kepemimpinan. Bukan lagi kompetisi sehat,” tambahnya.

James juga menyoroti peran penting mantan Gubernur Riau, Syamsuar, yang selama ini dinilai berupaya menjaga stabilitas internal partai. Ia menilai bahwa Syamsuar tentu memiliki pandangan strategis soal siapa figur yang layak memimpin Golkar Riau ke depan.

“Wajar jika Pak Syamsuar ingin Golkar dipimpin oleh kader tulen, bukan sekadar mereka yang menumpang nama atau mengejar jabatan,” tegasnya.

Namun, karena Golkar juga merupakan partai pendukung pemerintah, sejumlah kader disebut mendorong figur-figur kekuasaan  termasuk Wakil Gubernur Riau saat ini  untuk ikut dalam bursa pencalonan.

“Jangan hanya karena punya jabatan lantas merasa layak memimpin partai. Golkar punya sejarah, punya nilai-nilai yang diwariskan lewat Hymne Golkar, Panca Bakti, dan semangat perjuangan. Yang mau maju harus paham ruh kegolkaran, bukan sekadar membawa ambisi pribadi,” jelas James.

Ia juga menegaskan bahwa Golkar bukanlah partai yang otoriter, melainkan dikenal sebagai partai yang memberikan ruang demokratis bagi setiap kader.

“Uniknya Golkar itu seperti pasar bebas. Semua bisa mencalon, semua punya peluang sama. Tidak ada aklamasi yang dipaksakan, tidak ada instruksi tunggal. Justru karena itulah, dinamika politik di Golkar selalu hidup dan menarik,” katanya sambil tersenyum.

Kini perhatian publik tertuju pada Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Keputusan apakah Musda akan segera digelar secara terbuka atau justru dikunci oleh diskresi elit DPP akan sangat menentukan arah Golkar Riau ke depan.

“Kalau gelanggang Musda dibuka, para calon bisa bersaing secara sehat. Siap menang, siap kalah. Tapi kalau terus ditunda, yang muncul bukan harmoni, melainkan kegaduhan,” pungkas James.

Dinamika internal ini pun menjadi perbincangan hangat, dari forum elite hingga warung kopi. Satu pertanyaan besar yang kini menggema di tengah masyarakat dan kader partai adalah: Kapan pohon beringin di Riau akan kembali rimbun dan tidak meranggas oleh konflik yang tak berkesudahan?